K.H. Ayub Asnawi adalah sosok yang memiliki latar belakang yang penuh perjuangan. Sejak kecil, beliau merupakan seorang yatim yang merasakan kesedihan dan kesulitan dalam hidup, terutama saat menjelang hari raya lebaran. Beliau dilahirkan dalam keluarga sederhana dengan dua kakak dan dua adik. Ketika hari lebaran tiba, Mbah H. Halimah, ibunya, tidak memiliki cukup uang untuk membeli baju baru bagi anak-anaknya. Dalam keadaan tersebut, beliau hanya bisa mencari baju terbaik di antara yang ada dan menjahitnya sendiri. Pengalaman ini memberikan pelajaran berharga tentang ketahanan dan kepedihan yang dialami oleh anak-anak yatim.
Awal Mula Pembinaan Anak Yatim
Pengalaman pahit tersebut menumbuhkan keinginan yang kuat dalam diri K.H. Ayub untuk membantu anak-anak yatim yang kurang beruntung, agar mereka tidak merasakan kesedihan yang sama seperti yang pernah ia alami. Keinginan ini semakin kuat ketika beliau melihat banyak anak yatim di lingkungan sekitarnya, baik dari daerah Sanding 2, Bojongnangka, Tapos, hingga kampung- kampung tetangga lainnya.
Sebagai langkah awal, pada tahun 1974, K.H. Ayub mengadakan khitanan massal yang melibatkan hampir 80 anak yatim. Acara ini tidak hanya bertujuan untuk memenuhi salah satu syariat agama, tetapi juga untuk memberikan perhatian dan kasih sayang kepada anak-anak tersebut. Setelah menunaikan ibadah haji, tekad beliau untuk mendirikan tempat pembinaan bagi anak yatim semakin menguat.
Pembangunan Yayasan
K.H. Ayub memulai perjuangannya dengan membangun sebuah kobong yang berfungsi sebagai tempat tinggal dan pusat pembinaan. Pada awalnya, hanya ada 3-4 anak yatim yang tinggal di sana, namun kegiatan pengajian dan tahlilan rutin diadakan untuk memberi mereka bekal spiritual dan pendidikan dasar. Dalam upaya memperluas jangkauan bantuan, K.H. Ayub mulai menggalang donasi dari masyarakat. Kegiatan-kegiatan yang melibatkan anak-anak ini menarik perhatian banyak donatur, termasuk istri Kapolri saat itu, Bp. Sanusi, yang sangat mendukung visi dan misi yayasan.
Pembangunan Masjid dan Asrama
Pada tahun 1989, Bp. Sanusi berinisiatif untuk membangun masjid dan asrama bagi anak yatim, yang dikenal sebagai Masjid Al-Muhajirin. Proses pembangunan ini melibatkan partisipasi aktif masyarakat setempat yang bergotong royong meratakan tanah untuk pembangunan. Mereka menggunakan alat sederhana, seperti pacul, dan bekerja keras hingga malam. Pembangunan ini dimulai pada tahun 1987 dan mencakup dua asrama, satu untuk putra dan satu untuk putri, serta rumah bagi pembina yayasan.
Dengan selesainya pembangunan ini, yayasan mulai dikenal luas, dan masyarakat semakin sadar akan pentingnya pendidikan dan pembinaan bagi anak-anak yatim. Nama yayasan ini awalnya adalah Alfiya, yang kemudian berganti nama menjadi Yayasan Darul Yatim Asnawiyah (Yadaya) pada tahun 1995, dan akhirnya menjadi Kursiya (Kesadaran Umat Ridho Sosial Idaman Yatim Asnawiyah).
Pengembangan Pendidikan
Melihat kebutuhan pendidikan yang mendesak, K.H. Ayub mengambil langkah untuk mendirikan Madrasah Ibtidaiyah (MI) pada tahun 1991. Sekolah ini dibangun berdasarkan permintaan masyarakat yang ingin anak-anak mereka mendapatkan pendidikan yang baik. Dalam waktu singkat, MI berhasil menghasilkan lulusan pertama pada tahun 1992.
Tidak berhenti di situ, pada tahun 2003, beliau mendirikan Madrasah Tsanawiyah (MTs) untuk melanjutkan pendidikan bagi para lulusan MI. Melihat perkembangan yang positif, pada tahun 2013,
K.H. Ayub juga mendirikan Madrasah Aliyah (MA) untuk memenuhi kebutuhan pendidikan tingkat lanjutan. Perjuangan beliau dalam mendirikan institusi pendidikan ini menunjukkan komitmen dan dedikasinya terhadap anak-anak yatim.
Warisan dan Pesan
K.H. Ayub Asnawi meninggalkan warisan yang berharga bagi generasi selanjutnya. Ia selalu menekankan bahwa yayasan ini didirikan dengan perjuangan, air mata, dan keringat. Beliau berharap bahwa anak-anak yang bersekolah dan belajar di yayasan ini akan belajar dengan baik dan suatu saat kembali untuk mengembangkan lembaga ini. Pesan beliau jelas: “Yayasan ini adalah tempat berjuang dan berjihad dalam hal pendidikan.”
Telah terjadi beberapa kali pergantian kepemimpinan, yaitu:
- KH. Ayub Asnawi (1974 s.d. 2013)
- Drs. KH. Agus Setiawan, Lc., MA (2013 s.d. sekarang)
Madrasah Maju Bermutu Mendunia
Visi Misi MTs Asnawiyah
Visi
“Terwujudnya madrasah unggul yang dilandasi Imtaq dan Iptek serta berwawasan lingkungan”
Misi
Untuk mencapai visi diatas, Madrasah kami memiliki Misi :
- Meningkatkan keimanan dan ketaqwaan serta akhlaqul karimah dalam kehidupan sehari – hari.
- Melaksanakan kegiatan pembiasaan keagamaan sebagai media pembekalan ibadah dan pembentukan karakter.
- Mewujudkan pendidikan yang berkepribadian dinamis, cerdas, terampil dan menguasai pengetahuan, teknologi dan seni.
- Meningkatkan kualitas pendidik, tenaga kependidikan dan kompetensi lulusan.
- Mengembangkan kurikulum madrasah melalui pembelajaran aktif, inovatif, kreatif, efektif dan menyenangkan dengan pendekatan scientifik.
